Secangkir kopi masih mengepulkan
uap panas di hadapanku, di hadapan kita. Dua puntung rokok sudah terserak di
dalam asbak. Malam ini tak seperti biasanya. Kamu banyak diam dengan pikiranmu.
Aku banyak bermenung dengan keraguanku. Mataku masih mencari-cari apa yang
baiknya kuratapi dalam hati. Matamu aku tak kuat melihatnya, tak ada lagi sinar
ceria disana. Muram, gelap, seperti habis dikunjungi mala. Hatiku menciut,
pandangan mataku menjadi lamur saat kupaksakan juga menatapmu, wajahmu itu. Engkau
seolah menjadi longsor derita yang siap menggulungku dengan tangismu, ratapmu,
sedihmu. Kamu hanya diam sayang, seolah menungguku menggoyang ranting kecil
yang menyangga ratapmu itu. Kamu diam, aku ingin lari menghilang. Hilang akalku
di hadapmu saat ini.
Dua puluh menit sudah lewat. Empat
batang rokok sudah kuhisap. Cangkir sudah tak mengepulkan uap , tapi belum
kusentuh. Kopi menjadi penanda waktu buat kita. Habis kopi, habis pula waktu
bersamamu. Aku tak ingin itu saat ini. Kutahan-tahankan agar tak kuminum
kopiku, sembari aku menyusun kata untukmu, sayang. Masih kupikir-pikirkan apa
baiknya yang kusampaikan padamu. Aku tahu kamu tak mau terima alasan, selogis
apapun itu. Kupilih-pilihkan kata yang akan sesedikit mungkin membuatmu kecewa.
Hujan mulai turun. Kamu suka hujan, selalu ingin bermain air di dalam hujan. Apa
perlu kubicarakan hujan, sayang?
Aku semakin gamang. Aku semakin
ciut. Pandangku semakin lamur. Bayangmu semakin kabur. Kupaksakan juga mulutku
terbuka “Aku akan selalu mencintaimu, walau hujan sudah membawamu pergi. Aku akan
selalu mengenangmu, walau waktu sudah menjemputmu. Aku tak akan pernah
menghabiskan gelas kopiku, karena aku ingin selalu bersamamu” Lalu kamu hilang,
untuk selamanya menunggui kenanganku.