May 4, 2015

Hujan Pukul Sembilan Malam



Secangkir kopi masih mengepulkan uap panas di hadapanku, di hadapan kita. Dua puntung rokok sudah terserak di dalam asbak. Malam ini tak seperti biasanya. Kamu banyak diam dengan pikiranmu. Aku banyak bermenung dengan keraguanku. Mataku masih mencari-cari apa yang baiknya kuratapi dalam hati. Matamu aku tak kuat melihatnya, tak ada lagi sinar ceria disana. Muram, gelap, seperti habis dikunjungi mala. Hatiku menciut, pandangan mataku menjadi lamur saat kupaksakan juga menatapmu, wajahmu itu. Engkau seolah menjadi longsor derita yang siap menggulungku dengan tangismu, ratapmu, sedihmu. Kamu hanya diam sayang, seolah menungguku menggoyang ranting kecil yang menyangga ratapmu itu. Kamu diam, aku ingin lari menghilang. Hilang akalku di hadapmu saat ini. 

Dua puluh menit sudah lewat. Empat batang rokok sudah kuhisap. Cangkir sudah tak mengepulkan uap , tapi belum kusentuh. Kopi menjadi penanda waktu buat kita. Habis kopi, habis pula waktu bersamamu. Aku tak ingin itu saat ini. Kutahan-tahankan agar tak kuminum kopiku, sembari aku menyusun kata untukmu, sayang. Masih kupikir-pikirkan apa baiknya yang kusampaikan padamu. Aku tahu kamu tak mau terima alasan, selogis apapun itu. Kupilih-pilihkan kata yang akan sesedikit mungkin membuatmu kecewa. Hujan mulai turun. Kamu suka hujan, selalu ingin bermain air di dalam hujan. Apa perlu kubicarakan hujan, sayang? 

Aku semakin gamang. Aku semakin ciut. Pandangku semakin lamur. Bayangmu semakin kabur. Kupaksakan juga mulutku terbuka “Aku akan selalu mencintaimu, walau hujan sudah membawamu pergi. Aku akan selalu mengenangmu, walau waktu sudah menjemputmu. Aku tak akan pernah menghabiskan gelas kopiku, karena aku ingin selalu bersamamu” Lalu kamu hilang, untuk selamanya menunggui kenanganku.