Jan 24, 2014

Kamu Dalam Lamunan



Cerita ini bukan tentang aku cinta kamu, pun bukan tentang kamu cinta aku, tak sesederhana itu sayang. Cerita ini tentang selamat pagimu yang berkelindan dengan sepiku. Cerita ini tentang hentak tanganmu yang bersahutan dengan bentak suaraku. Cerita ini tentang luka yang meluruh dalam erat peluk kita. Cerita ini tentang esa yang memenuhi dua raga. Cerita ini tentang hal yang sederhana sayang, tapi menjadi tak sederhana karena engkau ada. Aku cinta kamu, untuk kesederhanaanmu berkata “iya”.

Buah Diam

Ada dalam suatu masa, ketika orang mulai enggan menggunakan mulutnya untuk bicara isi hati pada sang kekasih. Biarlah udara yang menyampaikan, lewat getaran dan debaran hati, katanya. Dan akan ada pula suatu masa ketika hatimu tak kan lagi mampu bergetar menyapa udara, ia diam, mulut pun diam, lalu udara hanya berputar bingung, dan ia pun pergi meninggalkan kau dengan kesombonganmu.

Romantis katanya, ketika sepasang kekasih saling memagut hati dalam diam, indah tak terkatakan. Mendadak kau menyesal, hati yang berpagut pergi tanpa memberikan salam, tak ada lagi getar dalam udara katanya, tinggallah kau sendiri di ujung bangku taman yang dingin. Romantis katanya, walau dingin.

Aku tak ingin menerka, siapa tahu udara sudah memandang sebelah mata, “tak kan ada getaran yang akan kau sampaikan” katanya, dan ia pergi sebelum hatiku bergetar. Biar tak romantis, tak apa, biar mulutku yang bicara, Aku cinta kau.