Ini cerita usang. Lagu lama yang selalu dinyanyikan bersama, oleh orang-orang tua. Lagu pengurung hati. Lagu untuk mendinginkan bara. Demi adat dan garis darah. Kira-kiralah begitu. Cerita usang dengan lagu lama. Dua sejoli yang selalu bertalian. Jodoh cerita usangnya, adat lagu lamanya. Lagu lama yang selalu diputar untuk banyak cerita, yang masih saja usang.
Bukannya aku tak suka memutar lagu lama, tidak juga sebenarnya aku bermasalah dengan melodi yang kadang kuanggap sumbang pada lagu lama. Hanya ikut menyodorkan bahu saja pada seorang kawan, sedang dirundung lagu lama dia kiranya. Untuk cerita usang, jodoh. Diputar-putarnya hati, dibolak balikkannya rasa, sampai manis kekalnya cerita usang itu tak dapat lagi ia cecap, paling tidak saat ini. Rasa pada gadis beda padang, hati untuk gadis beda lubuk sudahlah harus dibiarkan ditiup angin, dibawa lari arus. Tapi apalah rasa dibanding rasio, dimanalah hati dibanding akal, katanya. Rasa yang hanya pupuk mimpi yang sering harus digadaikan. Hati yang hanyalah lantai dari diri yang kadang tak sempat dilihat. Sialnya, banyaklah orang mencari lantai yang terjungkat, terjungkirlah hati.
Tidaklah salah orang memutar lagu lama untuk cerita usang. Tidak sedikitpun. Tak usah pula kita berdebat. Tak akan bertemu ujungnya. Tak akan pula kuberikan jalan keluar buat kawanku itu. Sabarlah, hanya itu mampu kuucapkan. Biar saja dulu mimpi menari riang di lantai dirimu. Janganlah ia digadaikan. Biarkanlah ia tak terlihat, dulu. Sampai mampu ia berkacak pinggang memutar lagu sendiri buat ceritanya. Tak ada gunanya mematut-matut diri di depan lagu lama, kalau tak hafal iramanya.
No comments:
Post a Comment