Oct 26, 2013

Surat Ragu



Ada yang salah dengan surat elektronik yang kupaksa-kirimkan pada dirimu. Salah, karena aku sendiripun belum terang benar akan maksud yang kusampaikan dalam surat itu, walaupun berulang kali aku katakan, ia tanpa maksud, begitupun, surat yang kukirim itu niscaya tetap mengandung maksud.

Tak ingin aku bertele-tele lagi, aku mencintaimu, dan ingin kamu tau itu, yang aku takutkan, aku akan mengecewakanmu, jika memilikimu. Semua yang kumiliki, tak dapat kucintai dengan benar, dan aku tak ingin kamu kucintai dengan tak benar.

Kupikir, baiklah kiranya aku menjadi kekasihmu dan juga kawanmu sekaligus, dan perkasihan kita jugalah perkawanan kita. Ah, masih kuputari utara dari selatan untuk capai timur hatimu. 

Janganlah ini menjadi waham bagimu. Aku mendambakan menjadi kawan hidupmu, tapi adakah tepat kiranya jika berkasih-kasihan dengan jalan berkawan-kawanan.

Ada yang salah dengan ku. Aku tak ingin memilikimu, biar aku tetap bisa mencintaimu utuh sebagai kamu, sekaligus aku ingin memilikimu , karena hasrat hati yang tak akan bisa ditipu, aku ingin kamu hanya untukku.

Terserak



Aku peragu. Untuk menulis inipun berulang kali aku menghapus, balik menulis dan balik menghapus. Aku masih ragu, apa yang pantasnya aku bagikan. Ilmu aku tak ada, kata hanya terserak tak dapat kurangkai, jadinya, ceritapun aku tak punya. Tak usahlah kiranya aku bercerita, kucoba cocok- cocokkan saja kata yang terserak itu, entah kalau ia tersuruk, mungkin agak susah juga ia kurangkai kococokkan.

Aku tak begitu suka laut sebenarnya, hanya karena laut itu hangat dan riang,aku bisa puas berdiam diri, benar – benar berdiam diri, tak memikirkan kata yang terserak atau tersuruk itu sedikitpun. Mereka aman, tak terganggu. Satu hal yang aku takutkan dari laut, ia selalu memanggilku buat menyelaminya, terjun ke dalam laut yang kelam itu. Aku terpukau mungkin. Ada kiranya dukun merapalkan jampi dengan media batu karang yang sudah dikeramatkan di bawah sana, memanggilku,ingin mengambil kata dariku. Mungkin raung angin laut dan pecah gelombang di pantai adalah jampinya. Suara kasihku yang dapat memutus jampi itu, dan ia segera berserakan, tak cocok lagi disebut jampi. Suara kasihku, yang kinipun ikut berserakan. Kinipun sulit kurangkai lagi.

Ini akan segera menjadi lembar kesedihan, semuanya berserakan. Saling timpa, saling hantam, dilatari jerit tangis bocah ditingkahi muram bentak ayahnya. Kacau. Aku mencari merunut jejakmu, tak jua aku bersirobok kata untuk merangkaimu kasih. Tak sedikit jua. Kusambut saja jampi dukun yang datang mendudu, lagi,  biar ia puas biar akupun tandas. Akupun akan balas jampinya, akan kubisikkan, jampi mautku, “ Jangan kau ganggu kata yang berserakan ini, ia milik kasihku”