Aku peragu. Untuk
menulis inipun berulang kali aku menghapus, balik menulis dan balik menghapus.
Aku masih ragu, apa yang pantasnya aku bagikan. Ilmu aku tak ada, kata hanya
terserak tak dapat kurangkai, jadinya, ceritapun aku tak punya. Tak usahlah
kiranya aku bercerita, kucoba cocok- cocokkan saja kata yang terserak itu,
entah kalau ia tersuruk, mungkin agak susah juga ia kurangkai kococokkan.
Aku tak begitu
suka laut sebenarnya, hanya karena laut itu hangat dan riang,aku bisa puas
berdiam diri, benar – benar berdiam diri, tak memikirkan kata yang terserak
atau tersuruk itu sedikitpun. Mereka aman, tak terganggu. Satu hal yang aku
takutkan dari laut, ia selalu memanggilku buat menyelaminya, terjun ke dalam
laut yang kelam itu. Aku terpukau mungkin. Ada kiranya dukun merapalkan jampi
dengan media batu karang yang sudah dikeramatkan di bawah sana, memanggilku,ingin
mengambil kata dariku. Mungkin raung angin laut dan pecah gelombang di pantai
adalah jampinya. Suara kasihku yang dapat memutus jampi itu, dan ia segera
berserakan, tak cocok lagi disebut jampi. Suara kasihku, yang kinipun ikut
berserakan. Kinipun sulit kurangkai lagi.
Ini akan segera
menjadi lembar kesedihan, semuanya berserakan. Saling timpa, saling hantam,
dilatari jerit tangis bocah ditingkahi muram bentak ayahnya. Kacau. Aku mencari
merunut jejakmu, tak jua aku bersirobok kata untuk merangkaimu kasih. Tak
sedikit jua. Kusambut saja jampi dukun yang datang mendudu, lagi, biar ia puas biar akupun tandas. Akupun akan balas
jampinya, akan kubisikkan, jampi mautku, “ Jangan kau ganggu kata yang
berserakan ini, ia milik kasihku”
No comments:
Post a Comment