Oct 26, 2013

Terserak



Aku peragu. Untuk menulis inipun berulang kali aku menghapus, balik menulis dan balik menghapus. Aku masih ragu, apa yang pantasnya aku bagikan. Ilmu aku tak ada, kata hanya terserak tak dapat kurangkai, jadinya, ceritapun aku tak punya. Tak usahlah kiranya aku bercerita, kucoba cocok- cocokkan saja kata yang terserak itu, entah kalau ia tersuruk, mungkin agak susah juga ia kurangkai kococokkan.

Aku tak begitu suka laut sebenarnya, hanya karena laut itu hangat dan riang,aku bisa puas berdiam diri, benar – benar berdiam diri, tak memikirkan kata yang terserak atau tersuruk itu sedikitpun. Mereka aman, tak terganggu. Satu hal yang aku takutkan dari laut, ia selalu memanggilku buat menyelaminya, terjun ke dalam laut yang kelam itu. Aku terpukau mungkin. Ada kiranya dukun merapalkan jampi dengan media batu karang yang sudah dikeramatkan di bawah sana, memanggilku,ingin mengambil kata dariku. Mungkin raung angin laut dan pecah gelombang di pantai adalah jampinya. Suara kasihku yang dapat memutus jampi itu, dan ia segera berserakan, tak cocok lagi disebut jampi. Suara kasihku, yang kinipun ikut berserakan. Kinipun sulit kurangkai lagi.

Ini akan segera menjadi lembar kesedihan, semuanya berserakan. Saling timpa, saling hantam, dilatari jerit tangis bocah ditingkahi muram bentak ayahnya. Kacau. Aku mencari merunut jejakmu, tak jua aku bersirobok kata untuk merangkaimu kasih. Tak sedikit jua. Kusambut saja jampi dukun yang datang mendudu, lagi,  biar ia puas biar akupun tandas. Akupun akan balas jampinya, akan kubisikkan, jampi mautku, “ Jangan kau ganggu kata yang berserakan ini, ia milik kasihku”

No comments:

Post a Comment