Apr 14, 2014

Langkah

Lorong jalan di sudut utara ibukota ini hanya diterangi satu lampu untuk tiap seratus meter. Temaram. Desis petromak penjual ronde memberi rasa yang khas di lorong ini. Tapi tetap temaram. Tak apa.

Pukul 21.00 di arloji tanganku. Cukup larut, apalagi buat bocah yang tertawa berlarian ini. Masuk keluar lorong yang lebih sempit. Riangnya membawa cerah pada temaram ini. Tak apa.

Langkahku kecil-kecil saja. Biar agak lama kita sampai. Rumahmu. Tanganmu tak kugandeng. Biar mereka lepas menari maju mundur ikut lincah langkahmu. Aku setengah langkah di belakangmu, biar dapat memagut pinggangmu kalau-kalau ada motor tak tahu diri melintas.

Kau banyak diam di jalan temaram ini. Aku yang sibuk bicara. Kau diam mendengarkan lalu tertawa. Walau katamu leluconku tak lucu. Talu tabuhan tukang sate meningkahi. Makin renyah tawamu. Makin lincah tarian tanganmu.

Makin ingin kuciumi kamu. Ingin rasanya kuhentikan sejenak langkah dan tarianmu. Lekat kutatap matamu, agar kau tahu aku ingin menciumi kamu. Ingin rasanya. Tapi tak apa.

Lorong ini dua kali berbelok ke kanan, satu kali ke kiri, sebelum kamu sampaikan bahwa diujung lorong sesudah lampu adalah rumahmu. Akhirnya akan segera berakhir kesenanganku menikmati tarian tanganmu. Tak apa.

Aku tolong kau membuka gerbang rumahmu. Kusempatkan mampir barang sejenak. Kau suguhkan teh hangat, bukan kopi. Jangan terlalu sering minum kopi, ujarmu dulu. Kuseruput pelan-pelan. Tapi gugup hatiku membuat buyar, dua seruput teh itu sudah habis. Teh manismu.

Tak jadi kucium kamu. Cukup kuusai-usai saja rambut hitam panjangmu. Lalu berucap aku pulang dulu. Nanti jangan lupa kabari. Doa darimu.

Kuusahakan sekali untuk tak menoleh ke belakang, rumahmu. Gila rindu ini, sudah menggebu. Tarianmu, tawamu,teh manismu sangat pandai menggoda rindu gila ini. Sayang, kapan kapan akan kutemani lagi dirimu di lorong temarammu. Akan kuberanikan diri menciummu.

No comments:

Post a Comment