Dua biji mata itu masih saja tersenyum. Potret gambarmu yang sengaja kau selipkan di buku catatanku. "Biar kau tak lupa aku" ujarmu pelan, sambil tersenyum. Manis. Selalu akan ada dua senyum, saat aku membuka bukuku. Senyum matamu, dan senyum manis bibirmu yang sudah keras terpahat di ingatanku.
Kita bertemu dua tahun silam, sebagai teman. Lalu berpisah dua tahun kemudian. Kita berpisah, yang kau sendiri tak tahu alasannya. "Kita takkan bisa melalui ini, aku tak bisa. Selalu saja ada yang berbeda dan salah rasanya". Saat itu, aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin berpendapat. Karena aku ingat, aku pernah bilang tak akan pernah memaksamu.
Kabarmu, hanya kudengar sayup-sayup. Sepatah-sepatah. Dari kawan-kawan kita. Tak kuat aku mengumpulkan nyali, barang sedikitpun untuk menanyakan kabarmu. Entah kenapa. Mungkin aku tak mau memaksamu.
Kabar tak berani kutanyakan, tapi cantik parasmu selalu dapat kupandang. Tak elok rasanya. Baik aku pindah simpankan saja fotomu ini. Biar penuh aku menyimpanmu dalam sunyi, walau kadang ingatan tak tahu diri.
Dua biji mata itu, akan kusimpan dalam sunyi. Untuk terakhir, biar kusandingkan kau dengan hujan yang turun pukul 4 sore ini. Biar pungkas rinduku mengingatmu dalam sendu.
No comments:
Post a Comment