Tangis yang tidak sengaja pecah di puncak gunung itu, menjadi tanda setahun kepergianmu. Engkau pungkas disini, ceritamu, kisahmu. Merepih disayat angin gunung. Membaur satu, dinyanyikan tiap malam saat angin gunung menari lembah.
Aku bersedekap khusyuk disini. Dini hari dan sendiri. Rindu akan lagumu yang dibawakan angin malam. Sembari memutar ulang tawamu didalam kotak kenangan. Tawamu yang ditingkahi pekik kecil angin gunung.
Masihkah kisahmu membelai lembut edelweis dan cantigi saat petang, sayang? Masihkah kisahmu menampar pendaki yang lelah dan hilang arah, kasih?
Aku rindu kamu. Pemberi tawar saat capai sudah di ujung jari, saat bibir sudah pucat menahan beban berat.
Aku kehilanganmu. Bunga cantik disudut mata. Semerbak anggur diujung hidungku.
Tidak. Tak akan sekalipun kusalahkan gunung, yang kau cinta, jadi sebab pergimu. Tidak sayang. Itulah kisahmu. Pintaku pada Meru yang agung, abadilah kisahmu dipekikkan. Kekallah kisahmu disenandungkan. Oleh angin gunung dan gesekan daun.
No comments:
Post a Comment