Mar 17, 2014

#2

Kamu cantik. Seperti banyak didendangkan biduan tentang segarnya matahari pagi, damainya matahari senja, seperti itu jugalah kamu. Cantik. Segar dan damai di dalamnya.

Apa aku akan terdengar berlebihan jika kubilang, Tuhan tersenyum saat menitipkanmu pada Ibumu? Tapi apa daya, sebenarnya tak mampu kuungkapkan keriuhan hatiku saat memandang wajahmu dan mendengar suaramu. Kupakai saja frasa itu, tak apa bukan?

Kamu pernah berkata bahwa kamu tak tahu yang kamu cari dan kamu inginkan, untuk menjadi teman hidupmu nanti. Tak berani juga aku mengaku-aku bahwasanya orang sepertikulah untukmu. Untuk membayangkannya saja aku gamang, apalagi sampai mengaku-aku padamu. Untuk saat ini, aku hanya berani menuliskan ini, menunjukkan kagumku padamu. Kagum pada keberanianmu, kagum pada daya hidupmu, kagum pada selembar dua lembar ceritamu.

Terlalu sering aku bilang, yang kumiliki tak kucintai dengan benar. Mungkin aku belum mampu mencinta. Mencintamu. Atau itu hanya bentuk keangkuhanku akan ketidakmampuanku untuk mencinta dan menjaga segar serta damaimu. Entahlah. Hei Cantik, mungkin memang benar, bukan aku yang kamu cari, tapi perbolehkan aku untuk belajar mencinta, lewat mengagumi segar dan damaimu. Belajar merawat kekagumanku padamu.

Mar 2, 2014

Erat



Aku tak tahu, untuk apa ruang sempit.
Dalam mimpimu, dalam sudut hatimu.

Kucoba menerka,
Mungkin biar lebur rasa yang ada.
Biar manunggal. Biar bisa kau simpan di sudut hatimu.

Ada benar terkaanku?
Atau, biar puas kau nikmati keringat kekasihmu.
Biar kau tunjukkan hasratmu dalam tiap hembus desahmu.
Biar kau tahu, ia hanya untukmu.

Masih juga salah?
Mungkin tak dapat kuraba sudut hatimu.
Atau aku terlalu pongah melihat ruang sempitmu.

#1



Masihkah dirimu menanti. Menanti mentari lelah, dan pungkas di horizon, surat cinta kita. Ah ya, sudahkah kau terima pesan cintaku saat mentari meruapkan sendu senja, kesukaanmu. Kalau memang pesan-rasa itu tak sampai, apalagi yang mesti kubuat.Semburat pagi menua dalam petang.kurobek siang, biar kau segera dapat rasaku.

Pernahkan kau lamunkan nyanyian hujan? Ia ruapkan sepi dari tanah. Ia tandaskan hangat pada aether. Adakah ia gelap? Membawa jeri dalam diri. Benarkah gelap?
Bukan. Bocah berlari riang dalam peluk hujan. Sejenaka matamu menyapaku. Aku hanya mendaku pelukmu. Semoga horizon surat cinta kita menyampaikan padamu ,di seberang sana.

Satu waktu



Adakah Tuan dan Nyonya paham.
Akan rindu yang menjadi lebam.
Laiknya pohon albasia yang selalu dicumbu air pasang. Ia pun sesak.
Dan tumbang.

Seketika, ingatan akan senja ketika air pasang
membucah. Dilatari kikik anjing, ia pun jadi sendu
yang merdu
anjing pun bisa mengabarkan merdu dalam senduku.

Albasia sudah tumbang, Tuan.
Senjapun tak lagi sendu, Nyonya.
Tapi aku masih merindu.

Terserah kamu saja



Dulu kekasihku sering berkata : terserah kepadamu saja, aku cuma ingin bersamamu, berbincang, tertawa, apapun, melamunpun boleh, asal bersamamu. Selalu begitu, saat kami sedang akan merencanakan tempat tujuan kencan kami. Aku yang selalu bingung, tak banyak referensi tempat yang aku miliki. Lagipula, aku tak begitu paham maksud perkatannya, masa untuk melamun saja perlu berdua.

Itu dulu, kini juga tak berubah. Bedanya hanya satu, perempuan yang bertanya yang berganti – ganti. Jawabanku ku pun juga tak beda, aku tak tahu, terserah kamu sajalah, atau aku ajukan nama warung kopi yang itu – itu juga. Bukan karena itu warung kopi kesukaanku, bukan karena kenangan yang meruak harum dari sana, tapi karena hanya itu selalu terlintas di kepalaku, dan kulontarkan saja pada perempuan, kekasihku yang bertanya. Biar dia tak bertanya lagi, aku membatin.

Sampai aku bertemu denganmu, perlukah kutulis namamu di catatan ini, banyak hal yang terlintas saat kau bertanya, mau kemana kita hari ini. Aku memang tak langsung menjawab, bukan karena aku tak punya jawabnya, lebih karena aku sering termangu saat mendengarmu mengucapkan “mau kemana kita hari ini?”. Debur ombak dilatari langit biru menyesak dalam dadaku. Senyummu yang dilatari mata bulat itu.

“Kita taruhan saja” tukasku satu waktu saat kita beranjak keluar dari sebuah warung makan,  “kita taruhan, ada berapa warung fotocopy di sepanjang jalan ini” tawamu meledak, tak berjawab tapi langsung menggenggam tanganku, satu kilometer, dibawah panas terik.

Tak ada yang menang. Tak ada yang tahu apakah lima atau tujuh jawaban yang benar. Hujan tiba-tiba datang. Langsung kuhentikan langkah di pertigaan kecil menuju laut, kutatap wajahnya, matanya seakan bicara : terserah padamu, asal bersamamu kemanapun aku mau. Akhirnya kami melamun berdua menatap laut, dalam hujan. Dingin di badan, rasa yang hangatkan.

Kini, di warung kopi yang itu-itu juga, matamu masih yang dulu,masih bulat yang sama. Kusorongkan kursiku ke belakang, kutatap matamu: terserah padamu, asal bersamamu kemanapun aku mau. Kugandeng tanganmu, kan kuajak engkau entah kemana sayangku, selama ada matamu yang bulat untuk menuntunku.