Dulu kekasihku sering berkata : terserah kepadamu saja, aku cuma ingin
bersamamu, berbincang, tertawa, apapun, melamunpun boleh, asal bersamamu.
Selalu begitu, saat kami sedang akan merencanakan tempat tujuan kencan kami.
Aku yang selalu bingung, tak banyak referensi tempat yang aku miliki. Lagipula,
aku tak begitu paham maksud perkatannya, masa untuk melamun saja perlu berdua.
Itu dulu, kini juga tak berubah. Bedanya hanya satu, perempuan yang
bertanya yang berganti – ganti. Jawabanku ku pun juga tak beda, aku tak tahu,
terserah kamu sajalah, atau aku ajukan nama warung kopi yang itu – itu juga. Bukan
karena itu warung kopi kesukaanku, bukan karena kenangan yang meruak harum dari
sana, tapi karena hanya itu selalu terlintas di kepalaku, dan kulontarkan saja pada
perempuan, kekasihku yang bertanya. Biar dia tak bertanya lagi, aku membatin.
Sampai aku bertemu denganmu, perlukah kutulis namamu di catatan ini, banyak
hal yang terlintas saat kau bertanya, mau kemana kita hari ini. Aku memang tak
langsung menjawab, bukan karena aku tak punya jawabnya, lebih karena aku sering
termangu saat mendengarmu mengucapkan “mau kemana kita hari ini?”. Debur ombak
dilatari langit biru menyesak dalam dadaku. Senyummu yang dilatari mata bulat
itu.
“Kita taruhan saja” tukasku satu waktu saat kita beranjak keluar dari
sebuah warung makan, “kita taruhan, ada
berapa warung fotocopy di sepanjang jalan ini” tawamu meledak, tak berjawab
tapi langsung menggenggam tanganku,
satu kilometer, dibawah panas terik.
Tak ada yang menang. Tak ada yang tahu apakah lima atau tujuh jawaban yang
benar. Hujan tiba-tiba datang. Langsung kuhentikan langkah di pertigaan kecil
menuju laut, kutatap wajahnya, matanya seakan bicara : terserah padamu, asal
bersamamu kemanapun aku mau. Akhirnya kami melamun berdua menatap laut, dalam
hujan. Dingin di badan, rasa yang hangatkan.
Kini, di warung kopi yang itu-itu juga,
matamu masih yang dulu,masih bulat yang sama. Kusorongkan kursiku ke belakang,
kutatap matamu: terserah padamu, asal bersamamu kemanapun aku mau. Kugandeng
tanganmu, kan kuajak engkau entah kemana sayangku, selama ada matamu yang bulat
untuk menuntunku.
No comments:
Post a Comment