Sejenak Duduk dan Diam
May 4, 2015
Hujan Pukul Sembilan Malam
Jan 5, 2015
Rumah
Sudah kuyup tiap lipat kulitmu oleh keringat.
Marilah bung, ayolah nona.
Lempar sauhmu barang sejenak.
Biar lurus punggungmu akan memikul lagi.
Agar kering tanganmu bakal mencengkeram kuat.
Dunia tak akan kemana, bung.
Riang surga tetap disana, nona.
Tak lelahkah berlayar mencari rindu?
Tak penatkah terbang menunggangi sepi?
Mampirlah. Lapar, kau tinggal makan. Haus kau teguk ini teh. Duduklah dulu.
Sepotong surga, ada disini. Tak usah jauh mencari.
Nov 20, 2014
#4
Dua biji mata itu masih saja tersenyum. Potret gambarmu yang sengaja kau selipkan di buku catatanku. "Biar kau tak lupa aku" ujarmu pelan, sambil tersenyum. Manis. Selalu akan ada dua senyum, saat aku membuka bukuku. Senyum matamu, dan senyum manis bibirmu yang sudah keras terpahat di ingatanku.
Kita bertemu dua tahun silam, sebagai teman. Lalu berpisah dua tahun kemudian. Kita berpisah, yang kau sendiri tak tahu alasannya. "Kita takkan bisa melalui ini, aku tak bisa. Selalu saja ada yang berbeda dan salah rasanya". Saat itu, aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin berpendapat. Karena aku ingat, aku pernah bilang tak akan pernah memaksamu.
Kabarmu, hanya kudengar sayup-sayup. Sepatah-sepatah. Dari kawan-kawan kita. Tak kuat aku mengumpulkan nyali, barang sedikitpun untuk menanyakan kabarmu. Entah kenapa. Mungkin aku tak mau memaksamu.
Kabar tak berani kutanyakan, tapi cantik parasmu selalu dapat kupandang. Tak elok rasanya. Baik aku pindah simpankan saja fotomu ini. Biar penuh aku menyimpanmu dalam sunyi, walau kadang ingatan tak tahu diri.
Dua biji mata itu, akan kusimpan dalam sunyi. Untuk terakhir, biar kusandingkan kau dengan hujan yang turun pukul 4 sore ini. Biar pungkas rinduku mengingatmu dalam sendu.
Oct 7, 2014
Dibawa Pulang Gunung
Tangis yang tidak sengaja pecah di puncak gunung itu, menjadi tanda setahun kepergianmu. Engkau pungkas disini, ceritamu, kisahmu. Merepih disayat angin gunung. Membaur satu, dinyanyikan tiap malam saat angin gunung menari lembah.
Aku bersedekap khusyuk disini. Dini hari dan sendiri. Rindu akan lagumu yang dibawakan angin malam. Sembari memutar ulang tawamu didalam kotak kenangan. Tawamu yang ditingkahi pekik kecil angin gunung.
Masihkah kisahmu membelai lembut edelweis dan cantigi saat petang, sayang? Masihkah kisahmu menampar pendaki yang lelah dan hilang arah, kasih?
Aku rindu kamu. Pemberi tawar saat capai sudah di ujung jari, saat bibir sudah pucat menahan beban berat.
Aku kehilanganmu. Bunga cantik disudut mata. Semerbak anggur diujung hidungku.
Tidak. Tak akan sekalipun kusalahkan gunung, yang kau cinta, jadi sebab pergimu. Tidak sayang. Itulah kisahmu. Pintaku pada Meru yang agung, abadilah kisahmu dipekikkan. Kekallah kisahmu disenandungkan. Oleh angin gunung dan gesekan daun.
Sep 11, 2014
#3
Memikirkanmu, seperti mendudukkan diri ditebal rumput pada pinggir telaga di tengah hutan itu.
Hal yang pertama kali akan kulakukan setelah menyilakan kaki, adalah menarik napas yang dalam. Tak perlu menutup mata. Dalam sampai dada ini benar membusung. Lalu kuhembuskan dalam diam.
Aku ingin makin dalam memikirkanmu. Pohon gaharu disana, kusandarkan punggung pada batangnya yang kokoh. Selarik sinar mentari akan kubiarkan menyilaukan mata, biar ada alasan buat aku menutup mata, dan membayangkanmu disampingku.
Kuraba ilalang yang liar tumbuh. Kugenggam. Biar makin menjadi bayangmu. Aku menggenggam tanganmu, sayang.
Ah. Bayangmu yang memburu datang itu. Bak dewi penjaga telaga tengah gunung. Damai mengiring kedatangannya.
Memikirkanmu, megah bayang yang datang. Hanya memikirkanmu.
Jun 12, 2014
Buat Lisa
Malam ini memang tidak ada lilin yang akan engkau tiup dariku.
Tak jua akan ada kue tart dan kejutan.
Malam ini aku berencana hanya akan bersidekap, hening ikut merayakan harimu.
Malam ini, harimu berulang lagi. Harimu ikut ambil bagian dalam meriah pasar malam hidup.
Banyak doa yang akan dipanjatkan buatmu hari ini.
Bolehlah kucoba mengangsurkan doaku :
kuatlah kaki untuk melanglang
tegaklah hati untuk berjerih
biar jauh langkah yang kau lempar
biar dalam riang yang kau tanam
rukunlah rindu dan angan
supaya dapat mencapai terang
Selamat berulang tahun, Lisa.
May 12, 2014
Cerita Usang
Ini cerita usang. Lagu lama yang selalu dinyanyikan bersama, oleh orang-orang tua. Lagu pengurung hati. Lagu untuk mendinginkan bara. Demi adat dan garis darah. Kira-kiralah begitu. Cerita usang dengan lagu lama. Dua sejoli yang selalu bertalian. Jodoh cerita usangnya, adat lagu lamanya. Lagu lama yang selalu diputar untuk banyak cerita, yang masih saja usang.
Bukannya aku tak suka memutar lagu lama, tidak juga sebenarnya aku bermasalah dengan melodi yang kadang kuanggap sumbang pada lagu lama. Hanya ikut menyodorkan bahu saja pada seorang kawan, sedang dirundung lagu lama dia kiranya. Untuk cerita usang, jodoh. Diputar-putarnya hati, dibolak balikkannya rasa, sampai manis kekalnya cerita usang itu tak dapat lagi ia cecap, paling tidak saat ini. Rasa pada gadis beda padang, hati untuk gadis beda lubuk sudahlah harus dibiarkan ditiup angin, dibawa lari arus. Tapi apalah rasa dibanding rasio, dimanalah hati dibanding akal, katanya. Rasa yang hanya pupuk mimpi yang sering harus digadaikan. Hati yang hanyalah lantai dari diri yang kadang tak sempat dilihat. Sialnya, banyaklah orang mencari lantai yang terjungkat, terjungkirlah hati.
Tidaklah salah orang memutar lagu lama untuk cerita usang. Tidak sedikitpun. Tak usah pula kita berdebat. Tak akan bertemu ujungnya. Tak akan pula kuberikan jalan keluar buat kawanku itu. Sabarlah, hanya itu mampu kuucapkan. Biar saja dulu mimpi menari riang di lantai dirimu. Janganlah ia digadaikan. Biarkanlah ia tak terlihat, dulu. Sampai mampu ia berkacak pinggang memutar lagu sendiri buat ceritanya. Tak ada gunanya mematut-matut diri di depan lagu lama, kalau tak hafal iramanya.