Nov 20, 2014

#4

Dua biji mata itu masih saja tersenyum. Potret gambarmu yang sengaja kau selipkan di buku catatanku. "Biar kau tak lupa aku" ujarmu pelan, sambil tersenyum. Manis. Selalu akan ada dua senyum, saat aku membuka bukuku. Senyum matamu, dan senyum manis bibirmu yang sudah keras terpahat di ingatanku.

Kita bertemu dua tahun silam, sebagai teman. Lalu berpisah dua tahun kemudian. Kita berpisah, yang kau sendiri tak tahu alasannya. "Kita takkan bisa melalui ini, aku tak bisa. Selalu saja ada yang berbeda dan salah rasanya". Saat itu, aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin berpendapat. Karena aku ingat, aku pernah bilang tak akan pernah memaksamu.

Kabarmu, hanya kudengar sayup-sayup. Sepatah-sepatah. Dari kawan-kawan kita. Tak kuat aku mengumpulkan nyali, barang sedikitpun untuk menanyakan kabarmu. Entah kenapa. Mungkin aku tak mau memaksamu.

Kabar tak berani kutanyakan, tapi cantik parasmu selalu dapat kupandang. Tak elok rasanya. Baik aku pindah simpankan saja fotomu ini. Biar penuh aku menyimpanmu dalam sunyi, walau kadang ingatan tak tahu diri.

Dua biji mata itu, akan kusimpan dalam sunyi. Untuk terakhir, biar kusandingkan kau dengan hujan yang turun pukul 4 sore ini. Biar pungkas rinduku mengingatmu dalam sendu.

Oct 7, 2014

Dibawa Pulang Gunung

Tangis yang tidak sengaja pecah di puncak gunung itu, menjadi tanda setahun kepergianmu. Engkau pungkas disini, ceritamu, kisahmu. Merepih disayat angin gunung. Membaur satu, dinyanyikan tiap malam saat angin gunung menari lembah.

Aku bersedekap khusyuk disini. Dini hari dan sendiri. Rindu akan lagumu yang dibawakan angin malam. Sembari memutar ulang tawamu didalam kotak kenangan. Tawamu yang ditingkahi pekik kecil angin gunung.

Masihkah kisahmu membelai lembut edelweis dan cantigi saat petang, sayang? Masihkah kisahmu menampar pendaki yang lelah dan hilang arah, kasih?

Aku rindu kamu. Pemberi tawar saat capai sudah di ujung jari, saat bibir sudah pucat menahan beban berat.
Aku kehilanganmu. Bunga cantik disudut mata. Semerbak anggur diujung hidungku.

Tidak. Tak akan sekalipun kusalahkan gunung, yang kau cinta, jadi sebab pergimu. Tidak sayang. Itulah kisahmu. Pintaku pada Meru yang agung, abadilah kisahmu dipekikkan. Kekallah kisahmu disenandungkan. Oleh angin gunung dan gesekan daun.

Sep 11, 2014

#3

Memikirkanmu, seperti mendudukkan diri ditebal rumput pada pinggir telaga di tengah hutan itu.

Hal yang pertama kali akan kulakukan setelah menyilakan kaki, adalah menarik napas yang dalam. Tak perlu menutup mata. Dalam sampai dada ini benar membusung. Lalu kuhembuskan dalam diam.

Aku ingin makin dalam memikirkanmu. Pohon gaharu disana, kusandarkan punggung pada batangnya yang kokoh. Selarik sinar mentari akan kubiarkan menyilaukan mata, biar ada alasan buat aku menutup mata, dan membayangkanmu disampingku.
Kuraba ilalang yang liar tumbuh. Kugenggam. Biar makin menjadi bayangmu. Aku menggenggam tanganmu, sayang.

Ah. Bayangmu yang memburu datang itu. Bak dewi penjaga telaga tengah gunung. Damai mengiring kedatangannya.
Memikirkanmu, megah bayang yang datang. Hanya memikirkanmu.

Jun 12, 2014

Buat Lisa

Malam ini memang tidak ada lilin yang akan engkau tiup dariku.
Tak jua akan ada kue tart dan kejutan.

Malam ini aku berencana hanya akan bersidekap, hening ikut merayakan harimu.

Malam ini, harimu berulang lagi. Harimu ikut ambil bagian dalam meriah pasar malam hidup.

Banyak doa yang akan dipanjatkan buatmu hari ini.
Bolehlah kucoba mengangsurkan doaku :

   kuatlah kaki untuk melanglang
   tegaklah hati untuk berjerih
   biar jauh langkah yang kau lempar
   biar dalam riang yang kau tanam
   rukunlah rindu dan angan
   supaya dapat mencapai terang

Selamat berulang tahun, Lisa.

May 12, 2014

Cerita Usang

Ini cerita usang. Lagu lama yang selalu dinyanyikan bersama, oleh orang-orang tua. Lagu pengurung hati. Lagu untuk mendinginkan bara. Demi adat dan garis darah. Kira-kiralah begitu. Cerita usang dengan lagu lama. Dua sejoli yang selalu bertalian. Jodoh cerita usangnya, adat lagu lamanya. Lagu lama yang selalu diputar untuk banyak cerita, yang masih saja usang.

Bukannya aku tak suka memutar lagu lama, tidak juga sebenarnya aku bermasalah dengan melodi yang kadang kuanggap sumbang pada lagu lama. Hanya ikut menyodorkan bahu saja pada seorang kawan, sedang dirundung lagu lama dia kiranya. Untuk cerita usang, jodoh. Diputar-putarnya hati, dibolak balikkannya rasa, sampai manis kekalnya cerita usang itu tak dapat lagi ia cecap, paling tidak saat ini. Rasa pada gadis beda padang, hati untuk gadis beda lubuk sudahlah harus dibiarkan ditiup angin, dibawa lari arus. Tapi apalah rasa dibanding rasio, dimanalah hati dibanding akal, katanya. Rasa yang hanya pupuk mimpi yang sering harus digadaikan. Hati yang hanyalah lantai dari diri yang kadang tak sempat dilihat. Sialnya, banyaklah orang mencari lantai yang terjungkat, terjungkirlah hati.

Tidaklah salah orang memutar lagu lama untuk cerita usang. Tidak sedikitpun. Tak usah pula kita berdebat. Tak akan bertemu ujungnya. Tak akan pula kuberikan jalan keluar buat kawanku itu. Sabarlah, hanya itu mampu kuucapkan. Biar saja dulu mimpi menari riang di lantai dirimu. Janganlah ia digadaikan. Biarkanlah ia tak terlihat, dulu. Sampai mampu ia berkacak pinggang memutar lagu sendiri buat ceritanya. Tak ada gunanya mematut-matut diri di depan lagu lama, kalau tak hafal iramanya.

May 4, 2014

Jangan Bersedih

Kamu itu ibarat telaga yangdipeluk gunung. Dinaungi beringin dan jati tua serta damar matang pada tepianmu. Di tengah kau bersinar. Dari pinggir, rerimbunan membuatmu tampak sendu.
Hanya satu dua berkas surya yang bisa menembus pada tepianmu, hening dan tenang. Sedang di tengah, keciprat air dari ikan yang bahagia ditingkahi kibas bangau, sangat semarak.

Kuingatkan lagi, telaga itu kamu. Tidak pernah sepi sebenarnya. Awan akan selalu senang bersandar pada punggungmu, untuk sekadar membuat lamun akan kamu.
Hujan apalagi, yang tak kunjung bosan berkunjung, orkes kodok, kecipuk air, selalu ada menyanyikan lagu tidur buatmu, saat malam menjelang.

Telaga itu tak pernah sepi. Ramai sangat, tapi kenapa sendu sangat kuat tercium. Tebakanku, mungkin  ia terlalu lama menanggungkan rindu. Rindu pada muasal, rindu pada pencari damar yang sesekali digoda.

Jangan bersedih. Ikan bangau kodok awan hujan beringin jati damar dan pencari damar selalu ada. Dimanapun.

Apr 14, 2014

Langkah

Lorong jalan di sudut utara ibukota ini hanya diterangi satu lampu untuk tiap seratus meter. Temaram. Desis petromak penjual ronde memberi rasa yang khas di lorong ini. Tapi tetap temaram. Tak apa.

Pukul 21.00 di arloji tanganku. Cukup larut, apalagi buat bocah yang tertawa berlarian ini. Masuk keluar lorong yang lebih sempit. Riangnya membawa cerah pada temaram ini. Tak apa.

Langkahku kecil-kecil saja. Biar agak lama kita sampai. Rumahmu. Tanganmu tak kugandeng. Biar mereka lepas menari maju mundur ikut lincah langkahmu. Aku setengah langkah di belakangmu, biar dapat memagut pinggangmu kalau-kalau ada motor tak tahu diri melintas.

Kau banyak diam di jalan temaram ini. Aku yang sibuk bicara. Kau diam mendengarkan lalu tertawa. Walau katamu leluconku tak lucu. Talu tabuhan tukang sate meningkahi. Makin renyah tawamu. Makin lincah tarian tanganmu.

Makin ingin kuciumi kamu. Ingin rasanya kuhentikan sejenak langkah dan tarianmu. Lekat kutatap matamu, agar kau tahu aku ingin menciumi kamu. Ingin rasanya. Tapi tak apa.

Lorong ini dua kali berbelok ke kanan, satu kali ke kiri, sebelum kamu sampaikan bahwa diujung lorong sesudah lampu adalah rumahmu. Akhirnya akan segera berakhir kesenanganku menikmati tarian tanganmu. Tak apa.

Aku tolong kau membuka gerbang rumahmu. Kusempatkan mampir barang sejenak. Kau suguhkan teh hangat, bukan kopi. Jangan terlalu sering minum kopi, ujarmu dulu. Kuseruput pelan-pelan. Tapi gugup hatiku membuat buyar, dua seruput teh itu sudah habis. Teh manismu.

Tak jadi kucium kamu. Cukup kuusai-usai saja rambut hitam panjangmu. Lalu berucap aku pulang dulu. Nanti jangan lupa kabari. Doa darimu.

Kuusahakan sekali untuk tak menoleh ke belakang, rumahmu. Gila rindu ini, sudah menggebu. Tarianmu, tawamu,teh manismu sangat pandai menggoda rindu gila ini. Sayang, kapan kapan akan kutemani lagi dirimu di lorong temarammu. Akan kuberanikan diri menciummu.

Pada Jajar Tiang Listrik

Dijual cepat: hati dalam pelukan hujan. Rindu menggunung, siap dipanen. Tahan banting, setia menanti.

Dibutuhkan cepat: pelipur lara. Penyulam kesedihan. Penjahit kenangan. Biar hati tak lapuk dimakan rindu.

Segera berdiri: monumen keteguhan hati. Ditopang gigih bertiang perih. Berdapuk lara jua nelangsa.

Sedia kamar : ruang kosong rindu. Berjendela harap pada senyum kekasih. Berdipan hangat peluk tak teraih.

Sedia bibit : pemanis sudut hati. Cinta berdaun mara. Rindu bertangkai ragu. Peluk berakar benci.

Jangan lewatkan : obral besar rindu. Satu peluk untuk tiap amis darah. Satu kecup untuk tiap busuk langkah.

Semua disediakan terpisah. Bak lubuk pada bukit. Berpasangan tapi tak seroman. Dijejal penuh tapi tak jua pejal.

Apr 8, 2014

Fakta

Silahkan.
Jika kau tak percaya cintaku.
Saranku malah, jangan sekalipun kau percaya.

Faktanya, tak kan kau temui cintaku di almanak meja belajar mu pada 14 Februari. Tak kan ada jurnal saintifik membuktikan cintaku padamu, walau oleh peneliti paling junior sekalipun.

Tak juga akan kau temui cintaku dicetak besar pada headline koran beroplah nasional. Tak akan sayang. Tak akan.

Faktanya. Hanya bibirku yang akan bicara itu. Hanya mataku yang akan menangisi itu. Hanya bulu kudukku yang akan menggetarkan itu, cintaku padamu.

Tak akan juga akan kupaksa engkau percaya. Faktanya, hanya kau yang akan tahu sayang. Gunung kaubelah, tak akan ia bicara untuk ku. Langit kaucacah, tak akan ia meraung untuk ku.

Silahkan. Boleh kau coba sendiri.

Mar 17, 2014

#2

Kamu cantik. Seperti banyak didendangkan biduan tentang segarnya matahari pagi, damainya matahari senja, seperti itu jugalah kamu. Cantik. Segar dan damai di dalamnya.

Apa aku akan terdengar berlebihan jika kubilang, Tuhan tersenyum saat menitipkanmu pada Ibumu? Tapi apa daya, sebenarnya tak mampu kuungkapkan keriuhan hatiku saat memandang wajahmu dan mendengar suaramu. Kupakai saja frasa itu, tak apa bukan?

Kamu pernah berkata bahwa kamu tak tahu yang kamu cari dan kamu inginkan, untuk menjadi teman hidupmu nanti. Tak berani juga aku mengaku-aku bahwasanya orang sepertikulah untukmu. Untuk membayangkannya saja aku gamang, apalagi sampai mengaku-aku padamu. Untuk saat ini, aku hanya berani menuliskan ini, menunjukkan kagumku padamu. Kagum pada keberanianmu, kagum pada daya hidupmu, kagum pada selembar dua lembar ceritamu.

Terlalu sering aku bilang, yang kumiliki tak kucintai dengan benar. Mungkin aku belum mampu mencinta. Mencintamu. Atau itu hanya bentuk keangkuhanku akan ketidakmampuanku untuk mencinta dan menjaga segar serta damaimu. Entahlah. Hei Cantik, mungkin memang benar, bukan aku yang kamu cari, tapi perbolehkan aku untuk belajar mencinta, lewat mengagumi segar dan damaimu. Belajar merawat kekagumanku padamu.

Mar 2, 2014

Erat



Aku tak tahu, untuk apa ruang sempit.
Dalam mimpimu, dalam sudut hatimu.

Kucoba menerka,
Mungkin biar lebur rasa yang ada.
Biar manunggal. Biar bisa kau simpan di sudut hatimu.

Ada benar terkaanku?
Atau, biar puas kau nikmati keringat kekasihmu.
Biar kau tunjukkan hasratmu dalam tiap hembus desahmu.
Biar kau tahu, ia hanya untukmu.

Masih juga salah?
Mungkin tak dapat kuraba sudut hatimu.
Atau aku terlalu pongah melihat ruang sempitmu.

#1



Masihkah dirimu menanti. Menanti mentari lelah, dan pungkas di horizon, surat cinta kita. Ah ya, sudahkah kau terima pesan cintaku saat mentari meruapkan sendu senja, kesukaanmu. Kalau memang pesan-rasa itu tak sampai, apalagi yang mesti kubuat.Semburat pagi menua dalam petang.kurobek siang, biar kau segera dapat rasaku.

Pernahkan kau lamunkan nyanyian hujan? Ia ruapkan sepi dari tanah. Ia tandaskan hangat pada aether. Adakah ia gelap? Membawa jeri dalam diri. Benarkah gelap?
Bukan. Bocah berlari riang dalam peluk hujan. Sejenaka matamu menyapaku. Aku hanya mendaku pelukmu. Semoga horizon surat cinta kita menyampaikan padamu ,di seberang sana.

Satu waktu



Adakah Tuan dan Nyonya paham.
Akan rindu yang menjadi lebam.
Laiknya pohon albasia yang selalu dicumbu air pasang. Ia pun sesak.
Dan tumbang.

Seketika, ingatan akan senja ketika air pasang
membucah. Dilatari kikik anjing, ia pun jadi sendu
yang merdu
anjing pun bisa mengabarkan merdu dalam senduku.

Albasia sudah tumbang, Tuan.
Senjapun tak lagi sendu, Nyonya.
Tapi aku masih merindu.

Terserah kamu saja



Dulu kekasihku sering berkata : terserah kepadamu saja, aku cuma ingin bersamamu, berbincang, tertawa, apapun, melamunpun boleh, asal bersamamu. Selalu begitu, saat kami sedang akan merencanakan tempat tujuan kencan kami. Aku yang selalu bingung, tak banyak referensi tempat yang aku miliki. Lagipula, aku tak begitu paham maksud perkatannya, masa untuk melamun saja perlu berdua.

Itu dulu, kini juga tak berubah. Bedanya hanya satu, perempuan yang bertanya yang berganti – ganti. Jawabanku ku pun juga tak beda, aku tak tahu, terserah kamu sajalah, atau aku ajukan nama warung kopi yang itu – itu juga. Bukan karena itu warung kopi kesukaanku, bukan karena kenangan yang meruak harum dari sana, tapi karena hanya itu selalu terlintas di kepalaku, dan kulontarkan saja pada perempuan, kekasihku yang bertanya. Biar dia tak bertanya lagi, aku membatin.

Sampai aku bertemu denganmu, perlukah kutulis namamu di catatan ini, banyak hal yang terlintas saat kau bertanya, mau kemana kita hari ini. Aku memang tak langsung menjawab, bukan karena aku tak punya jawabnya, lebih karena aku sering termangu saat mendengarmu mengucapkan “mau kemana kita hari ini?”. Debur ombak dilatari langit biru menyesak dalam dadaku. Senyummu yang dilatari mata bulat itu.

“Kita taruhan saja” tukasku satu waktu saat kita beranjak keluar dari sebuah warung makan,  “kita taruhan, ada berapa warung fotocopy di sepanjang jalan ini” tawamu meledak, tak berjawab tapi langsung menggenggam tanganku, satu kilometer, dibawah panas terik.

Tak ada yang menang. Tak ada yang tahu apakah lima atau tujuh jawaban yang benar. Hujan tiba-tiba datang. Langsung kuhentikan langkah di pertigaan kecil menuju laut, kutatap wajahnya, matanya seakan bicara : terserah padamu, asal bersamamu kemanapun aku mau. Akhirnya kami melamun berdua menatap laut, dalam hujan. Dingin di badan, rasa yang hangatkan.

Kini, di warung kopi yang itu-itu juga, matamu masih yang dulu,masih bulat yang sama. Kusorongkan kursiku ke belakang, kutatap matamu: terserah padamu, asal bersamamu kemanapun aku mau. Kugandeng tanganmu, kan kuajak engkau entah kemana sayangku, selama ada matamu yang bulat untuk menuntunku.

Jan 24, 2014

Kamu Dalam Lamunan



Cerita ini bukan tentang aku cinta kamu, pun bukan tentang kamu cinta aku, tak sesederhana itu sayang. Cerita ini tentang selamat pagimu yang berkelindan dengan sepiku. Cerita ini tentang hentak tanganmu yang bersahutan dengan bentak suaraku. Cerita ini tentang luka yang meluruh dalam erat peluk kita. Cerita ini tentang esa yang memenuhi dua raga. Cerita ini tentang hal yang sederhana sayang, tapi menjadi tak sederhana karena engkau ada. Aku cinta kamu, untuk kesederhanaanmu berkata “iya”.

Buah Diam

Ada dalam suatu masa, ketika orang mulai enggan menggunakan mulutnya untuk bicara isi hati pada sang kekasih. Biarlah udara yang menyampaikan, lewat getaran dan debaran hati, katanya. Dan akan ada pula suatu masa ketika hatimu tak kan lagi mampu bergetar menyapa udara, ia diam, mulut pun diam, lalu udara hanya berputar bingung, dan ia pun pergi meninggalkan kau dengan kesombonganmu.

Romantis katanya, ketika sepasang kekasih saling memagut hati dalam diam, indah tak terkatakan. Mendadak kau menyesal, hati yang berpagut pergi tanpa memberikan salam, tak ada lagi getar dalam udara katanya, tinggallah kau sendiri di ujung bangku taman yang dingin. Romantis katanya, walau dingin.

Aku tak ingin menerka, siapa tahu udara sudah memandang sebelah mata, “tak kan ada getaran yang akan kau sampaikan” katanya, dan ia pergi sebelum hatiku bergetar. Biar tak romantis, tak apa, biar mulutku yang bicara, Aku cinta kau.